
PALU, DIALOGIS.ID – Wakil Gubernur Sulawesi Tengah dr. Reny A. Lamadjido memimpin High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah Provinsi Sulawesi Tengah yang membahas strategi pengendalian inflasi menjelang bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 2026. di Ruang Polibu, Palu, Rabu 14 Januari 2026.
Dalam arahannya, Wakil Gubernur menegaskan pentingnya langkah antisipatif sejak dini untuk mencegah lonjakan harga kebutuhan pokok. Ia mengakui bahwa pengendalian inflasi pada tahun 2025 menghadapi berbagai tantangan, namun berkat kerja sama lintas sektor, inflasi Sulawesi Tengah tetap terkendali.
Wakil Gubernur menyebut inflasi Sulawesi Tengah berada pada angka 3,31 persen dan masih dalam kategori sehat. Capaian tersebut merupakan hasil kerja Tim Pengendalian Inflasi Daerah dengan dukungan Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik, Perum Bulog, serta seluruh pemangku kepentingan terkait.
Ia menyampaikan terdapat empat daerah yang menjadi fokus pengendalian inflasi, yakni Kota Palu, Kabupaten Morowali, Kabupaten Tolitoli, dan Kota Luwuk. Daerah-daerah tersebut dinilai memiliki kontribusi signifikan terhadap pergerakan harga di Sulawesi Tengah. Melalui pengendalian yang konsisten, posisi inflasi daerah yang sebelumnya berada di peringkat tinggi nasional kini dapat ditekan dan stabil pada kisaran 3,31 persen.
Menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2026, Wakil Gubernur mengingatkan adanya potensi kenaikan harga pangan. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah akan melakukan inspeksi pasar dan pemantauan harga komoditas strategis, seperti beras, ikan, cabai, telur ayam ras, dan daging sapi.
Dalam rapat tersebut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah Provinsi Sulawesi Tengah menyepakati sejumlah langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga, antara lain menjamin ketersediaan stok bahan pangan strategis, mengoptimalkan cadangan pangan pemerintah daerah, serta memperkuat koordinasi dengan Perum Bulog.
Langkah lainnya meliputi pelaksanaan operasi pasar murah secara masif, tepat waktu, tepat lokasi, dan tepat sasaran, terutama di wilayah rawan inflasi dan terdampak cuaca. Tim juga mengantisipasi potensi gangguan distribusi akibat cuaca ekstrem dengan menyiapkan jalur logistik alternatif, melakukan pemantauan harga harian melalui sistem pelaporan TPID, serta memperkuat komunikasi publik agar masyarakat berbelanja secara bijak dan tidak melakukan pembelian berlebihan.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah Muhammad Irfan Sukarna menyampaikan bahwa tren inflasi Sulawesi Tengah terus menunjukkan perbaikan. Inflasi tercatat sebesar 3,92 persen pada Oktober, turun menjadi 3,50 persen pada November, dan kembali menurun menjadi 3,31 persen pada Desember 2025. Bank Indonesia merekomendasikan optimalisasi operasi pasar murah dengan fokus pada komoditas yang secara historis mengalami kenaikan harga saat Ramadan dan Idul Fitri.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tengah Imron Taufik J. Musa memaparkan hasil analisis inflasi Ramadan periode 2023 hingga 2025. Ia menyebut beras secara konsisten mengalami kenaikan harga setiap Ramadan, sehingga penguatan stok dan ketahanan pangan daerah menjadi prioritas utama. Selain itu, pengendalian inflasi komoditas perikanan juga perlu mendapat perhatian mengingat sektor tersebut merupakan karakteristik utama Sulawesi Tengah.
Rapat tersebut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, perwakilan Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik, Perum Bulog, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, serta perangkat daerah terkait. Kehadiran seluruh unsur tersebut menegaskan komitmen bersama dalam menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat Sulawesi Tengah menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2026.











