
PALU, DILOGIS.ID – Upaya memperkuat budaya literasi di Sulawesi Tengah memasuki babak baru dengan dibukanya Festival Literasi 2025 oleh Gubernur H. Anwar Hafid di halaman Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusaka), Kamis, 6 Oktober 2025.
Acara ini sekaligus menjadi momentum pengukuhan Bunda Literasi dari seluruh kabupaten/kota, termasuk Hestiwati Nanga yang resmi didaulat sebagai Bunda Literasi Kabupaten Parigi Moutong.
Selain pelantikan Bunda Literasi, Gubernur Anwar Hafid juga meresmikan Kelompok Kerja (Pokja) Bunda Literasi Provinsi Sulteng periode 2025–2030. Di kesempatan yang sama, pemerintah provinsi menyerahkan satu unit mobil perpustakaan keliling untuk mendukung perluasan layanan literasi hingga wilayah pelosok.
Mengangkat tema “Membudayakan Literasi Menuju Berani Cerdas untuk Sulawesi Tengah Nambaso”, festival ini menjadi ruang konsolidasi bagi para penggerak literasi. Suasana pembukaan terasa meriah dengan tampilnya drum band TK Alkhairaat Parigi Moutong.
Dalam pidatonya, Gubernur Anwar menyoroti perubahan pola literasi masyarakat yang kini lebih bergantung pada gawai. Menurutnya, tantangan utama adalah memastikan masyarakat memilih bacaan yang berkualitas.
“Minat baca tidak pernah surut. Yang penting adalah memastikan isi bacaan memberi manfaat,” ujar Anwar.
Ia menyebut peran Bunda Literasi sangat strategis dalam memperkuat keberadaan perpustakaan sebagai pusat informasi publik
Sry Nirwanti Bahasoan, yang juga dikukuhkan sebagai Bunda Literasi Provinsi Sulteng, menegaskan bahwa literasi tidak boleh dipandang sebagai kegiatan seremonial.
“Ini adalah kerja panjang, kerja sosial yang harus dimulai dari keluarga. Literasi membentuk karakter, membangun daya kritis, dan menciptakan manusia yang tangguh,” katanya.
Ia juga mendorong para pelajar untuk aktif menulis, sebagai bagian dari pembentukan identitas diri.
Plt. Kepala Dispusaka Sulteng, Muh. Idham Khalid, menyampaikan perkembangan positif capaian literasi daerah. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat Sulteng kini berada pada peringkat 11 nasional, sementara Rumah Baca menanjak ke posisi 26.
“Festival ini menjadi penguat kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan komunitas untuk memperluas kecakapan literasi,” ujarnya.
Festival Literasi 2025 dijadwalkan berlangsung tiga hari, menghadirkan berbagai agenda seperti pojok baca, lomba storytelling, hingga pameran karya literasi pelajar dan komunitas.
Dengan pengukuhan Bunda Literasi dan penambahan fasilitas layanan baca, pemerintah daerah berharap upaya literasi tidak hanya berhenti sebagai gerakan membaca, tetapi berkembang menjadi daya dorong bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat Sulawesi Tengah.
Laporan : Rejang








