
PARIGI MOUTONG, Dialogis.id — Karya musik kolaborasi seniman asal Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Welderahmat dan Nayaka Farrel, masuk nominasi Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2026 kategori Karya Produksi Kontemporer Terbaik.
Karya tersebut lahir dari proses kolaborasi setelah keduanya dipertemukan melalui seleksi terbuka (open call) sharing komposisi yang digelar oleh Gardika Gigih.
Welderahmat lolos seleksi bersama enam peserta lainnya dan mengikuti tahap presentasi karya. Dalam proses selanjutnya, ia dipasangkan dengan Nayaka Farrel untuk mengembangkan komposisi musik kolaboratif.
Karya yang mereka hasilkan mengusung musik elektroakustik dengan konsep fixed media, yaitu komposisi yang memadukan rekaman suara akustik dan pengolahan elektronik.
Dalam proses penciptaannya, keduanya mengumpulkan rekaman suara lingkungan (soundscape) dari Desa Porame, Kabupaten Sigi, dan Karawaci, Tangerang. Welderahmat turut menyumbangkan rekaman suara yang dikumpulkannya di Desa Porame.
“Yang membuat saya agak senang bukan nominasinya, tetapi justru musiknya itu sendiri. Karya musik eksperimental atau kontemporer ternyata bisa mendapat pengakuan dalam penghargaan musik di Indonesia,” ujar Welderahmat saat dihubungi melalui WhatsApp, Kamis (5/11/2026).
Ia mengaku tidak memiliki ekspektasi besar ketika mengikuti seleksi tersebut. Karena itu, masuknya karya kolaborasi mereka dalam nominasi AMI Awards 2026 menjadi pengalaman yang tidak disangka.
Bagi Welderahmat, pencapaian tersebut bukan sekadar tentang penghargaan, tetapi juga menjadi pengakuan terhadap musik eksperimental dan kontemporer yang selama ini memiliki ruang terbatas untuk dikenal lebih luas.
Dalam perjalanan berkesenian, ia menilai lingkungan pergaulan dan interaksi dengan sesama pelaku seni berperan penting dalam mengembangkan kreativitas. Keterbukaan menerima masukan dan memperluas referensi menjadi bagian dari proses untuk terus berkarya.
“Semangat berkarya itu tidak muncul begitu saja. Ada faktor yang membangun, salah satunya berkenalan dan bergaul dengan orang-orang yang bisa memberikan bahan bakar untuk kita terus berkarya,” tuturnya.
Selain menceritakan pengalamannya, Welderahmat berharap pemerintah daerah memberikan perhatian lebih terhadap pengembangan ekosistem kesenian di Parigi Moutong.
Menurutnya, program seperti Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) dan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) telah membuka ruang kreativitas bagi generasi muda. Namun, kegiatan tersebut perlu diikuti pembinaan dan pengelolaan kesenian secara berkelanjutan.
“Pemerintah daerah perlu ikut andil dalam proses kesenian. Bukan hanya melalui GSMS atau FLS2N, karena kegiatan seperti itu sifatnya momentum. Perlu ada pengelolaan kesenian yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menilai seni perlu ditempatkan sebagai bidang keilmuan yang dapat dipelajari, diteliti, dan diajarkan, bukan sekadar sarana ekspresi atau produk pariwisata. Karena itu, fasilitas dan ruang berkarya juga perlu mendapat perhatian.
Kepada generasi muda, Welderahmat berpesan agar tidak ragu mengembangkan potensi diri dan membangun jejaring dengan orang-orang yang memiliki kompetensi di bidangnya.
Ia juga mengingatkan anak muda Parigi Moutong agar tidak merasa rendah diri ketika membandingkan perkembangan daerahnya dengan wilayah lain.
“Semoga kita tidak selalu merasa kecil dan tidak selalu berpikir bahwa daerah lain di luar sana lebih baik daripada daerah kita, Parigi Moutong,” katanya.












