
PARIGI MOUTONG, DIALOGIS.ID — DPRD Kabupaten Parigi Moutong meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi selama masa peralihan musim pada April 2026.
Permintaan tersebut disampaikan menyusul meningkatnya intensitas hujan yang telah memicu banjir di sejumlah wilayah. BMKG dalam sejumlah prakiraan April 2026 juga mencatat Sulawesi Tengah sebagai wilayah yang perlu mewaspadai peningkatan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Ketua Komisi III DPRD Parigi Moutong, Mastulah, meminta BPBD segera mengambil langkah antisipatif, termasuk menyiapkan posko siaga di wilayah yang berpotensi terdampak bencana.
“Sekarang kita sudah masuk musim penghujan dan beberapa wilayah telah ditetapkan sebagai daerah rawan. Kami mendesak BPBD untuk segera siaga, termasuk menyiapkan posko di titik-titik rawan,” ujarnya.
Menurut Mastulah, kesiapsiagaan harus dilakukan sebelum bencana terjadi. Pemerintah daerah dinilai perlu memastikan personel dan sarana pendukung telah siap sehingga penanganan dapat dilakukan dengan cepat ketika bencana terjadi.
“Jangan menunggu banjir besar baru bergerak. Posko dan kesiapan personel harus sudah ada sejak awal. Ini bukan soal diminta atau tidak, tetapi sudah menjadi kebutuhan,” tegasnya.
Sejumlah wilayah di Parigi Moutong sebelumnya telah terdampak banjir akibat hujan dan meluapnya sungai. Salah satunya Kecamatan Sausu, termasuk Desa Sausu Taliabo dan Desa Sausu Peore. Data kebencanaan juga mencatat banjir di Desa Sausu Taliabo pada 13 April 2026 setelah hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan sungai meluap dan merendam rumah warga.
Di Kecamatan Moutong, pemerintah juga telah menyalurkan material penanganan banjir berupa geobag atau sandbag sebagai bagian dari upaya mitigasi.
Mastulah mengatakan perhatian perlu diberikan secara menyeluruh, terutama pada wilayah yang memiliki potensi terdampak banjir saat curah hujan meningkat.
“Daerah seperti Taopa dan Moutong perlu menjadi perhatian khusus. Dalam kondisi seperti ini, potensi banjir besar sangat mungkin terjadi,” jelasnya.
Selain banjir dan tanah longsor, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga perlu diwaspadai. Kondisi Hari Tanpa Hujan (HTH) yang panjang di sejumlah wilayah dapat meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran lahan.
Di sisi lain, potensi gempa bumi juga menjadi perhatian mengingat kondisi geologi Kabupaten Parigi Moutong yang berada di kawasan dengan aktivitas sesar dan kegempaan.
Komisi III DPRD berharap BPBD bersama seluruh pemangku kepentingan memperkuat koordinasi dengan mengacu pada data dan prakiraan cuaca dari BMKG. Langkah mitigasi yang dilakukan lebih awal diharapkan dapat mengurangi risiko dan dampak bencana terhadap masyarakat.
“Harapan kami, BPBD selalu dalam kondisi siap siaga. Kita harus mengantisipasi kemungkinan terburuk demi melindungi masyarakat,” pungkas Mastulah.









