Kematian Ibu dan Anak di Parimo Meningkat, 8 Puskesmas Belum Berfungsi sebagai PONED

(Foto : Kominfo Parimo)

PARIGI MOUTONG, DIALOGIS.ID — Angka kematian ibu dan anak di Kabupaten Parigi Moutong meningkat pada 2025. Berdasarkan Profil Kesehatan Kabupaten Parigi Moutong 2025, tercatat 10 kasus kematian ibu dan 81 kasus kematian anak di bawah usia lima tahun.

Jumlah kematian ibu meningkat dari sembilan kasus pada 2024 menjadi 10 kasus pada 2025. Sementara itu, kematian anak di bawah usia lima tahun naik dari 60 kasus menjadi 81 kasus dalam periode yang sama.

Dari total kematian anak pada 2025 tersebut, sebanyak 70 kasus merupakan kematian bayi baru lahir berusia 0–28 hari.

Data tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong dalam memperkuat upaya pencegahan kematian ibu dan anak, termasuk meningkatkan kesiapan fasilitas kesehatan serta mengintegrasikan program lintas sektor.

Salah satu persoalan yang disoroti adalah kesiapan pelayanan kegawatdaruratan ibu dan bayi baru lahir. Dalam materi Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Parigi Moutong disebutkan, delapan dari 24 puskesmas di daerah itu belum berfungsi sebagai Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED).

Kondisi tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam penguatan pelayanan kesehatan ibu dan anak, terutama untuk mendukung penanganan kegawatdaruratan serta sistem rujukan.

Persoalan ini dibahas dalam kegiatan Zoom Coaching Clinic pendampingan operasionalisasi Kerangka Kerja Nasional Penurunan Kematian Ibu dan Anak (KKNPKIA) bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Senin (19/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Bappelitbangda Parigi Moutong itu melibatkan empat OPD, yakni Bappelitbangda, Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB), serta Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD).

Kepala Bappelitbangda Parigi Moutong, Irwan, SKM., M.Kes., dalam materi yang disiapkan pada kegiatan tersebut memaparkan kondisi kematian ibu dan anak sekaligus arah intervensi yang perlu menjadi perhatian bersama.

Upaya penanganan direncanakan mencakup rangkaian pelayanan sejak kesehatan remaja dan calon pengantin, pemeriksaan kehamilan, persalinan, pelayanan nifas, penanganan bayi baru lahir, hingga pemantauan kesehatan bayi dan balita.

Pemkab Parigi Moutong juga mendorong penyempurnaan Rencana Aksi Daerah (RAD) Penurunan Kematian Ibu dan Anak periode 2026–2030. Dalam rancangan intervensi tersebut, enam puskesmas menjadi lokus prioritas, yakni Puskesmas Mepanga, Palasa, Tinombo, Sumbersari, Sienjo, dan Parigi.

Penetapan lokus mempertimbangkan angka kematian, jumlah kelahiran, dan kondisi wilayah. Wilayah prioritas tersebut direncanakan dievaluasi setiap tahun dengan mengacu pada data terbaru.

Dukungan anggaran turut menjadi perhatian dalam pelaksanaan program. Kebutuhan pembiayaan untuk 73 kegiatan penurunan kematian ibu dan anak diperkirakan mencapai Rp120 miliar, termasuk kebutuhan lintas sektor seperti akses jalan, air bersih, dan sanitasi.

Koordinasi empat OPD tersebut diharapkan dapat menyelaraskan program dan pembiayaan ke dalam RKPD 2027 serta dokumen perencanaan periode 2027–2030.

Melalui langkah tersebut, pemerintah daerah berupaya memperkuat pencegahan, meningkatkan kesiapan pelayanan kesehatan, dan memastikan intervensi penurunan kematian ibu dan anak berjalan secara terarah dan berkelanjutan.

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *